Tuesdays with Morrie
Buku ini nyeritain tentang seorang pekerja di media jurnalistik, Mitch, yang dulunya kuliah di Brandeis University. Setelah 16 tahun lulus dia akhirnya ketemu lagi sama dosennya, Morrie Schwartz seorang professor sosiologi. Beda keadaan, sekarang Morrie menderita ALS, penyakit yang diderita juga sama Stephen Hawking (siapa sih yang gak tau Hawking), malfungsional anggota tubuh, dimulai dari kaki terus ke atas, sampai terakhir ke jantung, ya kematiannya bisa diprediksi oleh medis.
Banyak orang yang hidupnya gak bermakna, berjalan kayak setengah tidur, kenapa itu bisa terjadi karena mereka sebenernya gak tau tujuan hidupnya, bahkan ngerasa tau tapi gak ngasih dampak. Hidup yang bermakna itu hidup yang berdampak, tetaplah terhubung orang lain, dengan komunitas di mana kita berada, berikan manfaat pada orang di sekeliling, teruslah berada pada kondisi yang dapat memberikan kamu tujuan dan makna.
Dari kisah ini Saya belajar untuk bagaimana hidup lebih berdampak dan bermakna, memang belum luas jangkauannya, tetapi setidaknya apa yang Saya lakukan hari ini adalah langkah menuju tujuan sesungguhnya untuk 10 tahun ke depan. Kita yang memiliki rencana, kita yang mengetahui caranya, meskipun berbeda dengan standar budaya pada era modern, biarkanlah kita memiliki budaya sendiri (seperti kata Morrie) lalu berikanlah sesuatu yang bermakna kepada manusia lain tanpa melihat lagi "salary" itulah arti sesunggunya cinta yang menghidupkan manusia, bahkan di saat-saat dia hampir mati. Raganya hilang tetapi Ia akan tetap tinggal pada hati, pikiran, dan kenangan manusia sepanjang hidup yang benar-benar mendapatkan cinta darinya.
Seperti Morrie pada pikiran Mitch hingga dibaca oleh Saya, yang bukan siapa-siapanya, tetapi meninggalkan bekas dan akan diingat sebagai guru kehidupan.
Thanks Mitch, Thanks Professor, you're mean a lot for me, I read about your life to live!
Komentar
Posting Komentar